Saturday, 1 November 2014

BUKU PEDOMAN DASAR KARANG TARUNA

Standard

 BUKU PEDOMAN DASAR KARANG TARUNA

Berpijak pada gagasan membentuk Karang Taruna sebagai alternatif, membuat pola pembangunan dengan melalui pemberdayaan Karang Taruna. Maka pada hakekatnya Karang Taruna sudah memenuhi persyaratan untuk dapat dikembangkan sebagai Infra Struktur sosial di pedesaan/kelurahan. Sebagai infra struktur sosial, maka seharusnya posisi Karang Taruna dapat dianggap sebagai partner Pemerintah untuk mengembangkan pembangunan pedesaan. Infra struktur sosial mempunyai misi membawakan aspirasi masyarakat untuk menyuarakan pembangunan. Suara pembangunan akan semakin padu dan bulat manakala peranan pemerintah (supra struktur) dan Karang Taruna sebagai infra struktur sosial seiring seirama jalannya.
Profesionalisme Karang Taruna sangat dituntut sebagai organisasi Infra struktur sosial karena peranan dan fungsinya sebagai pelayan pembangunan dianggap sangat strategis. Kiranya tidak menutup mata bahwa masih banyak kondisi Karang Taruna yang belum memenuhi persyaratan profesional. Pada kenyataan, kualitas Karang Taruna pada saat ini sebagian besar pada klasifikasi Karang Taruna tumbuh sebagian lagi berkembang. Oleh karena itu Pemerintah Daerah di dalam fungsinya sebagai pembina teknis utama dan dinas/instansi lain sebagai pembina teknis, mempunyai kawajiban untuk meningkatkan secara terus menerus kualitas Karang Taruna. Upaya peningkatan kualitas Karang Taruna harus diimbangi oleh Karang Taruna dalam memotivasi untuk mengembangkan peranan dan fungsinya secara optimal agar tercapai desa Karang Taruna. Adapun langkah yang harus ditempuh antara lain :
  1. Penataan management organisasi;
  2. Menumbuhkan dan mengembangkan kader-kader profesional;
  3. Penguasaan teknologi pedesaan;
  4. Peningkatan dan pengembangan program kegiatan.
  1. A. Penataan Management Organisasi sebagai langkah nyata untuk menjawab tantangan persoalan organisasi. Adapun rinciannya adalah sebagai berikut :
  2. Konsolidasi Organisasi;
  3. Tatanan/mekanisme organisasi yang terarah pada pengembangan Pokja-pokja;
  4. Peningkatan koordinasi dan komunikasi;
  5. Penataan administrasi yang lebih tertib.
Ruang lingkup penataan management proses organisasi Karang Taruna hendaklah berjalan searah dengan pembangunan, dimana tiap-tiap desa akan mempunyai karakter-karakter yang berbeda. Dengan demikian warna dan corak penataan management Karang Taruna akan berbeda satu sama lainnya.
  1. B. Menumbuhkan Dan Mengembangkan Kader Profesional Karang Taruna
Karang Taruna sebagai organisasi kepemudaan yang mempunyai fungsi pelayanan. Oleh sebab itu Karang Taruna mampu berpartisipasi secara aktif di dalam proses pembangunan pedesaan. Kondisi sosial yang diharapkan Karang Taruna mampu berfungsi sebagai perencana dan sekaligus sebagai pelaksana pembangunan pedesaan. Namun demikian didalam kenyataannya memang masih di jumpai banyak kendala dan tantangan yang dihadapi Karang Taruna yang antara lain :
  1. Kegiatan Karang Taruna yang masih bersifat rekreatif dan hanya sekedar pengisi waktu luang;
  2. Kurangnya kader profesional;
  3. Kurang tanggapnya sikap masyarakat terhadap pengembangan kualitas Karang Taruna;
  4. Keraguan Pemerintah Desa terrhadap potensi Karang Taruna sehingga sedikit dibri peluang pada peran pembangunan.
Semua kendala-kendala yang disebut diatas, memang merupakan tantangan bagi eksistensi Karang Taruna. Oleh sebab itu maka pembenahan diri Karang Taruna, khususnya pada anggotanya dituntut untuk selalu meningkatkan kadar kualitas diberbagai bidang didalam menghadapi kondisi sosial/yang berkembang.
  1. C. Penguasaan Teknologi
Kemampuan & penguasaan menerapkan teknologi, yaitu teknologi sederhana yang dapat digunakan oleh setiap atau yang dapat digunakan secara secara langsung dalam proses pembangunan. Dengan demikian Karang Taruna tidak memerlukan teknologi tinggi untuk berperan aktif di dalam pembangunan. Teknologi sederhana yang harus dikuasai Karang Taruna adalah teknologi yang mampu memadukan berbagai potensi di daerah pedesaan/kelurahan, antara lain :
  1. Penguasaan teknologi yang berkaitan dengan pengembangan sumber daya manusia, seperti misalnya penerapan usaha-usaha koperasi dan lain sebagainya;
  2. Teknologi yang dapat mengembangkan potensi SDA seperti misalnya teknologi pengolahan lahan kering, pengolahan pasca panen dll;
  3. Penguasaan teknologi terapan yang manfaatnya dirasakan secara langsung.
Dari gambaran-gambaran penguasaan teknologi yang dimaksud sebenarnya amat berkaitan dengan issue sentral yang sekarang sedang berkembang di tingkat kelurahan/pedesaan yaitu masalah perluasan lapangan kerja., masalah pengangguran, masalah urbanisasi yang tak terkendali dan masalah ketelantaran. Oleh sebab itu, maka penguasaan teknologi terapan hendaknya diukur manfaatnya untuk mangatasi dan mengantisipasi permasalahan-permasalahan diatas. Semakin tinggi tingkat kepekaan Karang Taruna terhadap persalahan yang terjadi sangat tergantung pada penguasaan teknologi tersebut diatas.
  1. D. Peningkatan dan Pengembangan Program Kegiatan
Yang dimaksud peningkatan dan pengembangan program kegiatan, adalah program yang banyak terkait dengan program pembangunan kelurahan/pedesaan. Sementara itu kita ketahui bahwa pembangunan dari tahun ke tahun semakin berfariasi dan kompleks, terutama bila dikaitkan dengan pemecahan permasalahan-permasalahan pembangunan.
Upaya yang paling tepat yang harus dilaksanakan Karang Taruna adalah menyesuaikan program-programnya sesuai dengan bentuk dan warna program pembangunan. Gambaran yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Desa atau Kelurahan dan LP3M, hendaknya tercermin juga pada program Karang Taruna. Oleh sebab itu diharapkan Karang Taruna aktif ke dalam proses perencanaan dan proses pelaksanaan pembangunan.
Indikasi keterlibatan Karang Taruna dalam proses pembangunan menuju Karang Taruna akan terlihat demi kegiatan-kegiatan Pokja-pokja yang dibentuk dan dikembangkan berdasarkan pada kepentingan-kepentingan pembangunan. Semakin luas pokja yang dikembangkan semakin menunjukan Karang Taruna berperan aktif di dalam pembangunan.
TUGAS FUNGSI KARANG TARUNA
Sesuai Pedoman Dasar Karang Taruna, pengertian Karang Taruna adalah Organisasi Sosial wadah pengembangan generasi muda yang tumbuh dan berkembang atas dasar kesadaran dan tanggung jawab sosial dari, oleh, dan untuk masyarakat terutama generasi muda di wilayah desa/kelurahan atau komunitas adat sederajat dan terutama bergerak dibidang usaha kesejahteraan sosial. Pembinaan Karang Taruna diatur dalam Permensos 83/HUK/2005 tentang Pedoman Dasar Karang Taruna. Berikut kutipan isi pedoman:
Tujuan
Tujuan Karang Taruna adalah :
  1. Terwujudnya pertumbuhan dan perkembangan kesadaran dan tanggung jawab sosial setiap generasi muda warga Karang Taruna dalam mencegah, menagkal, menanggulangi dan mengantisipasi berbagai masalah sosial.
  2. Terbentuknya jiwa dan semangat kejuangan generasi muda warga Karang Taruna yang Trampil dan berkepribadian serta berpengetahuan.
  3. Tumbuhnya potensi dan kemampuan generasi muda dalam rangka mengembangkan keberdayaan warga Karang Taruna.
  4. Termotivasinya setiap generasi muda warga Karang Taruna untuk mampu menjalin toleransi dan menjadi perekat persatuan dalam keberagaman kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
  5. Terjalinnya kerjasama antara generasi muda warga Karang Taruna dalam rangka mewujudkan taraf kesejahteraan sosial bagi masyarakat.
  6. Terwujudnya Kesejahteraan Sosial yang semakin meningkat bagi generasi muda di desa/kelurahan atau komunitas adat sederajat yang memungkinkan pelaksanaan fungsi sosialnya sebagai manusia pembangunan yang mampu mengatasi masalah kesejahteraan sosial dilingkungannya.
  7. Terwujudnya pembangunan kesejahteraan sosial generasi muda di desa/kelurahan atau komunitas adat sederajat yang dilaksanakan secara komprehensif, terpadu dan terarah serta berkesinambungan oleh Karang Taruna bersama pemerintah dan komponen masyarakat lainnya.
Fungsi
Setiap Karang Taruna melaksanakan fungsi :
  1. Penyelenggara Usaha Kesejahteraan Sosial.
  2. Penyelenggara Pendidikan dan Pelatihan bagi masyarakat.
  3. Penyelenggara pemberdayaan masyarakat terutama generasi muda dilingkunggannya secara komprehensif, terpadu dan terarah serta berkesinambungan.
  4. Penyelenggara kegiatan pengembangan jiwa kewirausahaan bagi generasi muda di lingkungannya.
  5. Penanaman pengertian, memupuk dan meningkatkan kesadaran tanggung jawab sosial generasi muda.
  6. Penumbuhan dan pengembangan semangat kebersamaan, jiwa kekeluargaan, kesetiakawanan sosial dan memperkuat nilai-nilai kearifan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
  7. Pemupukan kreatifitas generasi muda untuk dapat mengembangkan tanggung jawab sosial yang bersifat rekreatif, kreatif, edukatif, ekonomis produktif dan kegiatan praktis lainnya dengan mendayagunakan segala sumber dan potensi kesejahteraan sosial di lingkungannya secara swadaya.
  8. Penyelenggara rujukan, pendampingan, dan advokasi social bagi penyandang masalah kesejahteraan sosial.
  9. Penguatan sistem jaringan komunikasi, kerjasama, informasi dan kemitraan dengan berbagai sektor lainnya.
10.  Penyelenggara usaha-usaha pencegahan permasalahan sosial yang aktual.
PEMBERDAYAAN KARANG TARUNA DENGAN PROGRAM LPM

Karang Taruna merupakan wadah pembinaan generasi muda yanmg berada di Desa atau Kelurahan dalam bidang Usaha Kesejahteraan Sosial. Sebagai wadah pembinaan tentu saja mempunyai beberapa program yang akan dilaksanakan yang melibatkan seluruh komponen dan potensi yang ada di Desa atau Kelurahan yang bersangkutan. Sebagai Lembaga atau Organisasi yang bergerak di bidang Pembangunan Kesejahteraan Sosial dan berfungsi sebagai subyek. Karang Taruna sedapat mungkin mampu menunjukkan fungsi dan peranannya secara optimal.
Sebagai organisasi tentunya harus memiliki susunan pengurus dan anggota yang lengkap dan masing-masing anggota dapat melaksanakan fungsinya sesuai dengan bidang tugasnya serta dapat dapat bekerja sama dengan didukung oleh administrasi yang tertib dan teratur.  Memiliki program kegiatatan yang jelas sesuai dengan kebutuhan dan permasalahan yang ada disekitarnya Program Kegiatan Karang Taruna belangsung secara melembaga terarah dan berkesinambungan serta melibatkan seluruh unsur generasi muda yang ada.
Kemampuan untuk menghimpun dana secara tetap baik yang bersumber dari Pemerintah maupun swadaya masyarakat untuk pelaksanaan program masyarakat kegiatannya  Karang Taruna harus memiliki sarana prasarana yang memadai baik secara tertulis maupun administrasi Keberadaan Karang Taruna harus mampu menunjukkan peran dan fungsinya secara optimal di tengah-tengah masyarakat sehingga dapat memberikan legetimasi dan kepercayaan kepada komponen-komponen yang lain yang sama-sama berpatisipasi dalam Pembangunan Desa atau Keluraharan khususnya pembangunan dalam pembangunan dalam bidang Kesejahteraan Sosial, salah satu komponen yang berperan dalam pembangunan Desa atau Kelurahan adalah Lembaga Pemberdayaan Masyarakat ( LPM ).
LPM bersama-sama dengan komponen–komponen yang lain sesuai dengan tugas, fungsi dan perananya berkepentingan membangun Desa atau Kelurahan masing-masing. Mengetahui bahwa LPM sebagai lembaga masyarakat yang mewadahi segenap aspirasi masyarakat dalam Pembangunan Desa atau Kelurahan secara menyeluruh ( Idiologi, Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya, Agama, Pertahana dan Keamanan ) dan mempunyai tugas yang menyelenggarakan musyawarah Desa atau Kelurahan maka Karang Taruna sebagai salah satu bagian dari partisipasi pembangunan bidang kesejahteraan sosial akan selalu koordinasi, konsultasi, koreksi dan memberikan kritik atau saran maupun bentuk yang lain dengan LPM.
Pemberdayaan Karang Taruna dengan program LPM dalam Usaha Kesejahteraan Sosial (UKS). Telah di ketahui bersama bahwa Karang Taruna sebagai organisasi sosial kepemudaan yang ada di Desa atau Kelurahan mempunyai tugas pokok yaitu : bersama-sama pemerintah menangani permasalahan sosial (Pembangunan dibidang Kesejahteraan Sosial). Sebagai organisasi Karang Taruna mempunyai program yang disesuaikan dengan kepentingan atau keadaan masyarakat Desa atau Kelurahan masing-masing.
Dalam program atau kegiatan yang dilaksanakan LPM dan setelah dicermati, dikaji dan dipahami maka dapat ditarik suatu garis kerjasama koordinasi, saling mengisi, saling mendukung dan saling sumbang saran dengan program atau kegiatan Karang Taruna sebagai bagian dari partisipasi masyarakat khususnya generasi muda, bidang Usaha Kesejahteraan Sosial, program-programnya akan dilaksanakan bersama-sama membahu pemerintah dalam pembangunan di Desa atau Kelurahan meskipun Karang Taruna kosentrasinya pada Pembangunan Bidang Kesejahteraan Sosial..
Sesuai dengan kondisi masing-masing Karang Tarunanya. Karang Taruna diharapkan mampu menyikapi dan menangani berbagi permasalahan kesejahteraan sosial para pemuda dan warga masyarakat umumnya, LPM sebagai wahana partisipasi masyarakat (salah satunya Karang Taruna) akan selalu memberikan spirit, dorongan dan membantu pembangunan Karang Taruna melalui program-program yang telah direncanakan Karang Taruna.  Dengan bekal kemampuan dan kemapanan yang optimal, Karang Taruna akan mampu secara maksimal menangani permasalahan kesejahteraan sosial, sehingga permasalahan sosial yang ada di Desa atau Kelurahan akan menjadi berkurang atau hilang.  Dengan demikian LPM mampu memberikan kontribusi kepada Karang Taruna secara optimal melalui program-programnya dan masyarakat sendiri merasakan dampaknya yaitu permasalahan sosial berkurang, kesejahteraan sosial meningkat dan kesetiakawanan sosial maupun kebersamaan sosial menjadi kental.
Beberapa program UKS Karang Taruna yang dapat dikontribusikan dengan lembaga atau organisasi lain dan bermanfaat bagi masyarakat pada umumnya, antara lain: Pencegahan atau preventif terhadap tumbuhnya kenakalan remaja dan penyalahgunaan narkoba, minuman keras dan lain-lain melalui kegiatan olah raga, kesenian dan rekreasi dll.  Pelayanan dan rehabilitasi sosial antara lain :kebersihan lingkungan, penyantunan para penyandang cacat anak terlantar secara rujukan maupun langsung, penyantunan para korban bencana dan lain-lain.  Pengembangan melalui kerjasama dengan organisasi sosial yang ada, pembentukan Kelompok Usaha Bersama, ketrampilan ekonomi produktif dll.  Kependudukan dan lingkungan hidup, kesehatan dan gizi, KB, pertanian dll.Program-program tersebut bersifat fleksibel (dapat berubah), mengembangkan dan tuntas tanpa menimbulkan akses-akses negatif. Adapun fungsinya antara lain : sebagai pencegahan, rehabilitasi, pengembangan dan penunjang.  Selain dari program , banyak kegiatan yang dapat diprogramkan untuk membangun Desa atau Kelurahan khususnya pada bidang kesejahteraan sosial.
PERAN KARANG TARUNA DALAM PEMBERDAYAAN FAKIR MISKIN
Pemberdayaan Fakir Miskin merupakan komitmen bersama seluruh komponen bangsa, baik pemerintah maupun masyarakat. Paradigma pemberdayaan dalam pengentasan fakir miskin merupakan pergeseran cara pandang terhadap fakir miskin sebagai obyek pembangunan selama ini. Ditengah segala keterbatasannya, kita semua menyadari bahwa Fakir Miskin adalah juga manusia yang memiliki berbagai potensi untuk dapat dikembangkan dan diberdayakan, paling tidak ”agar mereka dapat menolong diri mereka sendiri”, sebagaimana prinsip yang sering dikembangkan dalam pembangunan kesejahteraan sosial.
Solidaritas sosial yang tinggi, mobilitas yang tinggi, keuletan, dan orientasinya kemasa depan yang cukup kuat, merupakan diantara sekian potensi yang masih dimiliki oleh Fakir Miskin. Implementasinya tentu disesuaikan dengan kondisi daerahnya masing-masing. Karena berdasarkan wilayahnya, program pemberdayaan fakir miskin dikonsentrasikan berdasarkan karakteristik yang terbagi kedalam: wilayah hutan kemasyarakatan, wilayah pedesaan (termasuk daerah pertanian dan pegunungan), wilayah desa-kota (sub urban, termasuk kawasan industri), wilayah perkotaan, wilayah pesisir/pantai, wilayah kepulauan terpencil, wilayah perbatasan antarnegara, wilayah eks korban bencana alam, dan wilayah eks korban bencana sosial.
Seiring dengan upaya-upaya pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan kesejahteraan sosial, maka program pemberdayaan fakir miskin juga merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pemberdayaan potensi sumber kesejahteraan sosial yang ada dimasyarakat, diantaranya Karang Taruna. Karang Taruna adalah organisasi sosial wadah pengembangan generasi muda yang tumbuh dan berkembang atas dasar kesadaran dan tanggungjawab sosial dari, oleh, dan untuk masyarakat terutama generasi muda di desa/kelurahan atau komunitas adat sederajat yang bergerak dibidang usaha kesejahteraan sosial. Sebagai social institution yang menjadi sumberdaya sosial paling potensial di masyarakatnya, Karang Taruna diorientasikan untuk menjadi organisasi pelayanan kemanusiaan penyelenggara Usaha Kesejahteraan Sosial yang memiliki pendekatan dan standar pada pendekatan pekerjaan sosial yang memadai, karena Karang Taruna adalah juga Volunteer.
Untuk itulah, untuk menjadikan Karang Taruna sebagai organisasi atau kelompok masyarakat fungsional yang secara khusus membantu pemerintah dalam program-program kesejahteraan sosial seperti pemberdayaan fakir miskin, maka peran Karang Taruna juga lebih diarahkan pada kegiatan-kegiatan advokasi, bimbingan, dan pendampingan terhadap implementasi program pemberdayaan fakir miskin. Hal itu juga mengingat keberadaan Karang Taruna yang tumbuh dan berkembang dihampir seluruh desa/kelurahan di Indonesia baik wilayah pedesaan, pesisir, hutan kemasyarakatan, industri, maupun eks korban bencana. Berikut ini beberapa istilah yang berhubungan dengan implementasi Karang Taruna :
  1. Pemberdayaan Masyarakat adalah upaya mengembangkan potensi dan kapasitas masyarakat agar mereka dapat mengatasi ataupun menangani dengan baik permasalahan ataupun tantangan kehidupan yang sedang ataupun akan mereka alami.
  2. Usaha Kesejahteraan Sosial (UKS) adalah serangkaian kegiatan yang ditujukan untuk mengatasi masalah sosial atau kerawanan sosial ekonomi dari anggota masyarakat melalui peningkatan kemampuan sumberdaya manusia dan peningkatan akses terhadap pelayanan sosial dasar dengan mendayagunakan sumber-sumber sosial yang ada di masyarakat.
  3. Fakir Miskin adalah orang yang sama sekali tidak mempunyai sumber mata pencaharian dan tidak mempunyai kemampuan memenuhi kebutuhan pokok yang layak bagi kemanusiaan atau orang yang mempunyai sumber mata pencaharian tetapi tidak dapat memenuhi kebutuhan pokok yang layak bagi kemanusiaan (PP 42/1981).
  4. Usaha Ekonomis Produktif (UEP) adalah serangkaian kegiatan yang ditujukan untuk meningkatkan kemampuan dalam mengakses sumber daya ekonomi, meningkatkan kemampuan usaha ekonomi, meningkatkan produktivitas kerja, meningkatkan penghasilan dan menciptakan kemitraan usaha yang saling menguntungkan.
  5. Kewirausahaan adalah suatu usaha bisnis ekonomi berdasarkan tujuan dan sistematika tertentu yang dimulai dengan skala usaha kecil dan dengan menggunakan analisis ”peluang”, konseptual, inovasi, dan mengarah pada pemberian contoh berdasarkan falsafah kepemimpinan.
  6. Pendamping adalah seorang, sekelompok orang atau kumpulan orang dalam lembaga yang memiliki kompetensi di bidang usaha kesejahteraan sosial dan usaha ekonomis produktif melalui program peningkatan kemampuan ekonomi yang meningkatkan taraf kesejahteraan sosial masyarakat.
  7. Pendampingan sosial adalah proses menjalin relasi sosial antara pendamping dengan kelompok masyarakat yang tergabung dalam program tertentu dan masyarakat sekitarnya dalam rangka memecahkan masalah, memperkuat dukungan, mendayagunakan berbagai sumber dan potensi dalam pemenuhan kebutuhan hidup, serta meningkatkan akses anggota masyarakat terhadap pelayanan sosial dasar dan fasilitas pelayanan publik lainnya.
Dengan paradigma pembangunan saat ini yang menempatkan manusia sebagai sumberdaya potensial, maka sesungguhnya pembangunan menghadapi tantangan nyata dalam bentuk upaya-upaya konstruktif kearah pemberdayaan sumberdaya potensial tersebut untuk menjadi sumberdaya yang aktual dan konkrit. Umumnya masyarakat kita di desa/kelurahan adalah sumber daya manusia yang memiliki kemampuan dan ketrampilan mengelola sumber daya alam,modal, dan teknologi, disamping sebagian lainnya juga memiliki kemampuan untuk memimpin dan mengorganisir.
Potensi ini juga tidak terkecuali ada di kalangan generasi mudanya, Karang Taruna. Peningkatan keahlian dan ketrampilan SDM di desa/kelurahan sejatinya juga dapat dikembangkan diluar jalur formal. Berbagai pelatihan bagi masyarakat di desa/kelurahan dapat dikembangkan dengan harapan mampu menghasilkan tenaga kerja dan SDM yang berkualitas. Dengan memberdayakan dan mengembangkan Karang Taruna melalui berbagai pendekatan programnya, terutama untuk menjadi pendamping bagi pemberdayaan fakir miskin, akan dapat diwujudkan masyarakat dengan sumberdaya manusia yang berkualitas dalam arti mampu menyelesaikan permasalahan yang mereka hadapi sendiri.
Sumberdaya yang sangat potensial dalam akselerasi pembangunan dengan tingkat kesejahteraan yang meningkat adalah kelembagaan sosial yang berdaya, memiliki pengetahuan dan pemahaman, berpikir kritis, dan memiliki solusi bagi setiap permasalahan masyarakatnya. Bagaimanapun dan berapapun banyaknya kekayaan alam dan jumlah penduduk yang tersedia, jika kualitas manusia dan kelembagaan sosialnya kurang, maka menjadi sesuatu yang tidak bermanfaat. Sedangkan modal dan teknologi akan tergantung pada cara manusia membuat keterkaitan dan keserasiannya dengan faktor tenaga manusia itu sendiri.
Melalui bimbingan dan pendampingan dari Karang Taruna diharapkan sumberdaya manusia potensial dari kalangan fakir miskin dapat diwujudkan menjadi SDM yang aktual dan potensi ekonomi desa/kelurahan dapat menjadi sumber pendapatan asli daerah. Program Pendampingan oleh Karang Taruna dimaksudkan untuk menjembatani pemerataan tenaga sosial (Volunteer) yang bertugas mendampingi pemberdayaan fakir miskin diseluruh desa/kelurahan di Indonesia, dalam rangka ikut memecahkan masalah kemiskinan di tanah air. Sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai adalah mendampingi dan memberdayakan kelompok-kelompok usaha masyarakat fakir miskin dalam peningkatan kesejahteraan rakyat dan pengentasan kemiskinan, sekaligus dalam kerangka menggerakkan potensi desa dalam mengatasi masalah-masalah krisis ekonomi, khususnya pangan.

Kreativitas dan semangat Karang Taruna Desa Trirejo, Kecamatan Loano Kabupaten Purworejo patut diacungi jempol

Standard
 Kreativitas dan semangat Karang Taruna Desa Trirejo, Kecamatan Loano Kabupaten Purworejo patut diacungi jempol. Setelah sukses dengan program Sedekah Sampah beberapa waktu lalu, kini mereka melakukan aksi lain berupa penghijauan.

Bukan sekedar penghijauan, pada Minggu (3/2/2013) belasan anggota karang taruna menanam ratusan batang bibit Kenanga dan Kantil. Selain sebagai upaya melestarikan lingkungan, mereka menanam Kantil sebagai upaya melestarikan tanaman khas Jawa Tengah tersebut.

Ketua Karang Taruna Trirejo, Dwi Agus Santoso menjelaskan, kegiatan ini merupakan kegiatan lanjutan paska suksesnya gerakan Sedekah Sampah. "Selain untuk penghijauan desa, upaya ini juga untuk mengajak warga agar semakin sadar menjaga lingkungan," jelas pemuda yang akrab dipanggil Dwi ini.

Dalam aksinya, ratusan batang bibit Kenanga dan Kantil dibagikan ke warga yang tersebar di berbagai sudut desa. Setiap warga umumnya menyambut dengan gembira, namun tidak sedikit pula yang keheranan.

Mbah Rokami (72) misalnya. Nenek warga RT 2 RW 1 Desa Trirejo ini hanya bisa terkaget-kaget ketika Dwi dan kawan-kawan mendatangi rumahnya sambil membawa bibit Kenanga dan Kantil.

"Mau dikasih bibit Kantil dan Kenanga mboten mbah?" Tanya Dwi pada nenek tersebut. "Iya," jawabnya singkat.

Mendapat respon yang baik, para anggota karang taruna pun segera beraksi. Tanah di dua sudut pekarangan rumah mbah Rokami dicangkuli, diberi bibit Kenanga dan Kantil, lalu ditimbun dan diberi pupuk. Selesai menanam bibit, seorang anggota menempelkan stiker ajakan ramah lingkungan di pintu rumah.

Menurut Dwi, aksi ini merupakan aksi awal. Pada 17 Februari mendatang mereka akan melakukan aksi yang lebih besar. Ribuan bibit tanaman akan disebarkan di seluruh penjuru desa.(*)

Fam Trip Java Promo – Matta Penang di Kaligesing

Standard

Fam Trip Java Promo – Matta Penang di Kaligesing


MEDIA INFO WISATA – “Wow….bagus sekali.  Sejuk, segar, alamnya masih asli, nyaman untuk berlibur dan wisata,” spontan seorang wisatawan dari Negara Malaysia mengeluarkan kesan begitu tiba di Curug Siklotok. Sabtu 18 Januari 2014 rombongan tamu dari Matta Penang dari Negara Malaysia melakukan kunjungan ke beberapa desa wisata di Kabupaten Purworejo dan Kabupaten Kebumen Jawa Tengah. Perjalanan tersebut merupakan rangkaian dari  Fam Trip Java Promo 15-20 Januari 2014 yang didukungan travel agen Tahiti.
Di Kabupaten Purworejo, rombongan yang berjumlah 21 orang ini mengunjungi Desa Wisata Kaligono dan Tlogoguwo. Dari Yogyakarta rombongan wisatawan dari negeri jiran berangkat dari Wisma MM UGM pukul 7.30 dengan transportasi bus wisata. Setelah mengikuti perjalanan sekitar 2,5 jam, rombongan tiba di Desa Wisata Kaligono, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo. Di desa tersebut, rombongan disambut dengan kesenian local Ndolalak. Hadir dalam penyambutan tersebut Muspika Kecamatan Kaligesing, Lurah Desa serta Kelompok Sadar Wisata.
Di Desa Wisata Kaligono, rombongan berwisata di Curug Siklotok. Berkunjung ke Curug Siklotok, wisatawan akan mendapat suguhan keindahan tiga tingkat air terjun. Air terjun paling bawah bernama Curug Siklotok dengan ketinggian kurang lebih 30 meter. Air terjun tanpa nama dengan ketinggian sepuluh meter berada di atas Siklotok. Lalu paling atas terdapat Curug Silangit dengan ketinggian sedikitnya 60 meter.
Kepala Desa Kaligono, Suroto mengatakan Desa Kaligono memiliki beragam kekayaan wisata, yaitu wisata alam, wisata religi, wisata seni budaya, wisata agro, serta wisata petualang. Wisata alam yang ada di desa wisata tersebut adalah Curug Siklotok dan mendaki Bukit Wukir Kencono. “Di atas bukit itu anda bisa melihat pemandangan luas, hamparan alam hijau, petak-petak, kelokan sungai  di Kabupaten Purworejo. Bahkan dari ketinggian bukit Wukir Kencono, wisatawan bisa menyaksikan sun rise dan sun side serta laut pantai selatan,” paparnya.
Setelah menikmati segarnya aliran Curug Siklotog, rombongan bergerak ke desa wisata Tlogoguwo yang berjarak sekitar 10 km di atas desa kaligono. Selain wisata alam, Desa Wisata Tlogoguwo juga memiliki wisata pendidikan kampong ettawa karena di desa tersebut merupakan sentra peternakan kambing ettawa. Di Desa Tlogoguwo tersebut wisatawan bisa belajar memerah susu, memelihara, serta berwirausaha peternakan kambing etawa. “Kami memang menjadi wisata pendidikan kambing ettawa. Di sini anda bisa belajar salon kambing, memerah susu, memelihara serta semua yang berkaitan dengan kambing ettawa,” ujar pengelola peternakan ettawa, Tono.
Kedua desa wisata tersebut memiliki potensi yang sama yaitu Seni budaya antara lain: Ndolalak, jaran kepang, hadroh, tradisi saparan. Untuk wisata religi, ada Makam Kyai Caranggesing, Nyai Talak Bronto, Ki Tanjung Kerto, Kyai Ngabei, Kyai Seblaten. Mereka adalah tokoh dan ulama setempat.
Sementara untuk wisata agro alam, teradapat hasil bumi buah durian, manggis, petai, duku, nanas lokal, sirsak serta pisang. Di kawasan Kecamatan Kaligesing tersebut anda bisa menikmati buah durian sepuasnya ketika musim tiba.
Puas menyaksikan berbagai atraksi seni, menikmati pemandangan alam dan curug serta peternakan kambing ettawa, rombongan bergerak ke rumah makan Bebek Dargo untuk makan siang bersama jajaran Dinas Pariwisata Pemkab Purworejo. (tor)

Kesenian Incling/ Kuda Lumping Kudo Wiromo Dari Desa TLOGOGUWO Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo

Standard
Riwayat singkat Kesenian Incling ini sebenarnya bersumber dari sebuah cerita yang terdapat di Jawa Timur dan khususnya Karesidenan Madiun yang berpusat di Ponorogo.
Adapun cerita ringkasnya adalah sebagai berikut :
  1. Di Ponorogo ada seorang bernama Suromenggolo, ia seorang yang sakti mandraguna. Dalam hidupnya ia mempunyai seorang anak perempuan yang bernama Sarinten, ia adalah wanita yang sangat cantik sekali. Karena kecantikannya itu ia dilamar oleh seorang dari Trenggalek bernama Singalodra. Karena Sarinten tidak mau, maka Sarinten dibunuh oleh Singajaya atas perintah Singalodra.
  2. Karenanya marahlah Suromenggolo. Sehubungan dengan itu ia memasang umbul-umbul sebagai tanda menantang perang terhadap Singalodra. Umbul-umbul tersebut terlihat pula oleh Singalodra dan kawan-kawannya. Terjadilah peperangan.
  3. Dalam peperangan ini mereka masing-masing saling mengerahkan prajurit. Keduanya sangat kuat. Singalodra mengeluarkan kekuatannya/kesaktiannya dengan gigi siungnya, sedang Suromenggolo dengan kekuatan/kesaktiannya pada cemeti/pecut.
  4. Abdi-abdi Suromenggolo dalam keadaan yang demikian ini tidak dapat berbuat lebih bayak. Mereka hanya bimbang/bingung. Padahal seharusnya ia memihak pada bendara atau tuannya. Kadang-kadang ia menggambarkan peperangan ini bagaikan pertarungan ayam jantan (adu jago). Sebagai gambaran bahwa seekor ayam akan bertarung dengan gigihnya bahkan sampai matipun ia rela.
Dengan gambaran abdi-abdi yang demikian itu dapat ditangkap oleh kedua prajurit. Sehingga mengakibatkan peperangan semakin seru. Mereka masing-masing saling menggunakan kekuatan lahir : silat, pedang dan lain sebagainya. Kekuatan batin dengan berbagai macam ilmu kebatinan.
Demikianlah cerita singkat tentang Kesenian Incling Semagung yang diilhami dari cerita aslinya dalam cerita Singalodra melawan Suromenggolo.

SKENARIO TARI INCLING
  1. Penthul dan Bejer (Tembem) dengan menuntun Onclong keluar menuju arena pentas. Penthul dan Bejer adalah abdi Suromenggolo yang sedang menuntun kuda tuannya untuk latihan perang dalam menghadapi Singalodra. Onclong sebagai Suromenggolo membawa Cemethi sebagai pusaka. Sebelum dimulai gladen/latihan perang selalu didahului dengan manembah (nyembah/mangenjali) sebagai pertanda bahwa sebelum melakukan sesuatu harus mohon petunjuk kepada Tuhan pencipta alam semesta.
  2. Onclong memberi aba-aba dengan cemethi, para prajurit keluar menuju ke arena dengan berpacu naik kuda. Diikuti oleh barongan dan cepetan sebagai gambaran buron wana, yang hanya berfungsi sebagai rerenggan saja, bahwa di hutan pada waktu itu banyak sekali hewan-hewan.
  3. Semua prajurit turun dari kudanya selain/kecuali onclong. Dalam keadaan demikian ini Penthul dan Bejer mulai mengadu ayam (Adu Jago) yang dimainkan oleh Pemencak (2 orang) sebagai gambaran bahwa jago tidak kenal menyerah jika bertarung dengan lawannya. Melukiskan hal tersebut pada prajurit Suromenggolo yang tidak akan menyerah dan mundur sejengkalpun.
IV.  Atas perintah onclong semua prajurit naik kuda. Mereka bersama-sama mengadakan persiapan-persiapan dengan berbaris (barisan berkuda).
  1. Pemencak yang dalam hal ini sebagai pemimpin regu mulailah melaksanakan perang pedang. Perang dengan bersenjata tajam. Dengan semangat juan yang menyala-nyala, sinar matanya yang menunjukkan melawan setiap siasat musuhnya, maka bertarunglah dengan gigihnya. Penthul dan Bejer beserta Barong dan Cepet hanya sebagai suporter saja. Lebih-lebih Barongan dan Cepet , mereka juga saling bertempur walaupun hanya sedikit agak gegojegan.
VI.  Setelah semuanya siap siaga maka mulailah onlcong memberi aba dengan cemethi, agar semua prajurit mulai berangkat berperang melawan Singalodra. Dengan memacu kudanya mereka berangkat menuju ke medan laga. Tetapi karena semua prajurit menggunakan kuda, maka Penthul dan Bejer sangat ketinggalan. Mereka berdua lari sekuat enaga untuk mengejarnya.
JENIS IRINGAN YANG DIGUNAKAN OLEH KESENIAN INCLING
1. 2.
3.
4.
5.
6.
7.
Angklung Kempul
Gong Suwuk
Bende
Kendang
Bedug
Kecrek
: sebanyak 3 buah : sebanyak 2 buah laras 5 dan 2
: sebanyak 1 buah laras 2
: sebanyak 2 buah laras 5 dan 3
: sebanyak 1 buah berfungsi sebagai pamurba irama
: sebanyak 1 buah berfungsi sebagai penegas langkah beksan
: sebanyak 1 pasang (2 kepingan) yang berfungsi sebagai penegas
langkah beksan dan atau keprak
Dalam mengiringi tarian Incling, iringan tidak mempunyai nama (istilah) nama iringan atau nama gendhing.
Buka dan suwuk sangat dutentukan oleh spontanitas dari para penabuhnya.
JENIS/NAMA TARIAN YANG DIPERGUNAKAN
1. 2.
3.
4.
5.
6.
Tanpa nama Balapan
Adu Jago
Baris
Perang gaman
Balapan
: Penthul dan Bejer membawa onclong keluar : Prajurit keluar seluruhnya
: Perang para prajurit yang diwakili oleh 2 orang pemencak
: Naik kuda dalam bentuk barisan
: Perang pedang dengan naik kuda
: Prajurit masuk
JENIS PAKAIAN YANG DIPERGUNAKAN
1. 2.
3.
4.
Onclong Prajurit
Penthul Tembem
Barongan
: baju dan celana hitam dengan menggunakan kain, sampur, keris dan berkaca mata. Kuda berleher panjang
: baju putih, rompi merah, celana hitam, berkain dibuat seperti
ekor ayam, sampur, keris, berkaca mata. Kuda hitam biasa
: baju sloncer, celana hitam, berkain, blangkon, topeng
: dua orang di dalam barongan bercelana hitam komprang

Thursday, 30 October 2014

Budidaya Kambing Unggulan “Kambing Ettawa Ras Kaligesing”

Standard
Budidaya Kambing Unggulan “Kambing Ettawa Ras Kaligesing”
Snap_2014.05.08 20.38.16_010
Desa Wisata Tlogoguwo merupakan desa dengan Mayoritas mata pencaharian penduduk sebagai petani ternak sangat menjaga kelestarian alamnya,karena kebutuhan Hijauan pakan ternak (HPT) bagi ternak menjadikan petani ternak terus giat dalam menanam Hijauan serta menjaga keseimbangannya.Hamparan bukit yang hijau sejauh kita memandang adalah hasil Hijauan pakan ternak yang terus di tanam untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak mereka.
Kambing Ettawa Ras Kaligesing sendiri merupakan kambing Unggulan yang memiliki kelebihan tersendiri di banding kambing jenis lain.Selain dari segi fisiknya yang jauh berbeda lebih besar di banding kambing jenis lain,Kambing Ettawa Ras Kaligesing juga memiliki pertumbuhan yang lebih cepat di banding kambing lainnya.
Snap_2014.05.08 20.38.45_011 
Kita dapat melihat Budidaya Kambing Ettawa ras Kaligesing yang mempunyai keunikan tersendiri,seperti budaya Memandikan kambing,Perawatan Bulu serta Tanduknya hingga melihat langsung cara Mengawinkan dengan pejantan Unggulan yang tarifnya hingga Jutaan Rupiah untuk sekali mengawinkan agar mendapatkan hasil keturunan yang lebih baik.

Selain dari hasil Bredding yang cukup menghasilkan,kambing ettawa ras kaligesing yang banyak di budidayakan di desa wisata Tlogoguwo juga mengahasilkan SUSU Kambing Segar.Kita dapat melihat proses PEMERAHAN SUSU hingga PENGOLAHAN SUSU menjadi bubuk maupun produk lain seperti KARAMEL SUSU kambing ataupun Krupuk susu.
Budidaya kambing Ettawa Ras Kaligesing yang di tetapkan sebagai galur Ras Kambing unggulan Oleh Provinsi Jawa Tengah selain menghasilkan Daging dan susu juga memiliki keunikan adanya kambing klas KONTES,atau kambing dengan kualitas super yang dapat di ikutkan dalam kontes kontes kambing yang sering di lakukan.hal tersebut menjadi sangat menarik untuk dapat kita lihat bagaimana budaya penduduk dalam perawatan.
Cara Budidaya Kambing ettawa ras Kaligesing sendiri mempunyai nilai pendidikannya atau menjadi “Wisata Minat Kusus Budidaya Kambing Ettawa Ras Kaligesing” yang terus di giatkan,kini tak hanya budidaya berternaknya yang menarik,proses olahan susu hingga PENGOLAH PUPUK ORGANIK maupun “PEMBUATAN PAKAN SILASE” untuk ternak Kambing Ettawa Ras Kaligesing.