Tuesday, 25 November 2014

Cara Ternak / Budidaya Ulat Hongkong

Standard

Cara Ternak / Budidaya Ulat Hongkong


budidaya ulat hongkong
budidaya ulat hongkong
Ulat hongkong (UH) atau mealworm banyak sekali dimanfaatkan sebagai pakan burung kicau, reptile, ikan, landak mini dan hewan peliharaan. Meningkatnya penghobi burung kicau berimbas postif dengan permintaan ulat hongkong dan tentunya bisnis budidaya ulat hongkong  dapat menghasilkan penghasilan yang cukup besar.
Budidaya ulat hongkong tergolong mudah dan yang paling menarik tidak membutuhkan modal yang cukup besar. Anda dapat memanfaatkan sebagian ruang dalam rumah anda untuk berternak ulat hongkong ini, karena dalam budidaya ulat hongkong ini tidak mebutuhkan lahan yang besar.
Sebagai info ulat hongkong paling baik di budidaya di ruangan tertutup yang lembab dengan suhu 29 – 30 0C. Pastikan juga kandang terhindar dari semut dan tikus.

Cara Budidaya Ulat Hongkong

Pembahasan cara budidaya ulat hongkong ini dimualai dari tahapan masih ulat, ulat berubah menjadi kepompong, serangga/ kumbang Tenebrio molitor, yang nantinya bertelur dan menghasilkan ulat hongkong.

Pemilihan Tempat Budidaya ulat Hongkong

Kandang disini bisa menggunakan papan triplek / kayu, tetapi harus dilapisi dengan lakban pada sudut-sudut agar indukan atau ulat hongkong tidak kabur. Jika tidak mau repot membuat dari triplek, bias menggunakan kontainer plastik / wadah plastik.
Sebagai media pemeliharaan dapat  berupa campuran dedak halus(Polard) dan ampas tahu kering, anda bisa mendapatkan dedak dan apas tahu di took pakan ternak. Penggunakan dedak juga sebagai bahan agar container tetap lembab.

Tahapan Budidaya Ulat Hongkong

Langkah Pertama (Pembibitan dari Ulat menjadi Kepompong)
Masukan ulat hongkong dewasa kedalam wadah yang sudah diberi campuran dedak, ukuran ulat dewasa rata-rata panjang 15 mm dan lebar 4 mm. Jika kita menggunakan ulat dewasa perubahan menjadi kepompong biasanya memakan waktu sekitar 7 sampai 10.
Disini ulat dapat diberimakan sayuran atau buah apel dan kentang, jika member makan sayuran diberi sedikit demi sedikit karena dapat menimbulkan jamur. Simpan wadah ditempat gelap dengan suhu 29 – 30 0C. Cek setiap hari untuk member makan dan membersihkan kandang.
Langkah kedua (Kepompong menjadi serangga / kumbang)
Perubahan menjadi kepompong ini secara bertahap, dalam pemberian makan anda harus sangat memperhatikan karena jika kekurangan ulat-ulat yang kelaparan bisa memakan kepompong tersebut, jika anda takut bisa anda pindah ke wadah lain dengan media yang sama.
Setelah menetas menjadi serangga putih (calon kumbang). Jika sudah menjad kumbang (warna hitam) anda bisa pisahkan ke wadah baru dengan alas kapas. 
Kenapa kapas??? Karena kapas dapat melindungi kumbang dari hama, dan telur akan tahan guncangan, karena saat bertelur kumbang akan meletakan telur pada kapas dan dilapisi dengan lender agar telur terlindungi.
Makanan kumbang ini sama seperti masih menjadi ulat, anda  dapat member makanan buah-buahan dan sayuran.
Langkah Ketiga (Proses bertelur kumbang ulat sutra)
Proses kawin dan bertelur kurang lebih memerlukan waktu 2 minggu sampai 10 hari, Jika sudah bertelur pindahkan kumbang ke wadah baru dengan alas kapas, wadah lama disimpan karena sudah mengandung telur, lakukan langkah ini terus menerus. Telur-telur tadi akan menetas setelah 10 hari. Setelah ulat usia enam minggu siap dipanen dan dijual.
Demikian langkah-langkah budidaya ulat hongkong. Cukup mudah dan murah kan, budidaya juga tidak menyita banyak waktu, tinggal control makanan dan membersihkan sisa makanan 1 x sehari.
Demikian artikel mengenai Cara Ternak / Budidaya Ulat Hongkong semoga dapat menjadi pedoman dalam melakukan budidaya ulat hongkong.

Sunday, 2 November 2014

Beternak SEMUT RANGRANG/ KROTO

Standard

Metode Ternak

BEBERAPA METODE TERNAK SEMUT RANGRANG
Dalam Berternak semut rangrang ada beberapa metode,namun sebagian besar pensuplay Kroto masih menggunakan metode lama (tradisional) adapun metode-metode itu adalah :
1. Metode tradisional
Dalam metode ini hampir tidak ada campur tangan manusia secara langsung. Semut dibiarkan berkembang biak sendiri dan manusia hanya mengambil hasilnya. Contohnya; yang sekarang banyak dilakukan oleh pemetik kroto. Dia hanya mencari pohon yang ada sarang semutnya dan mengambil kroto yang ada. Kadang dapat banyak tetapi sering hanya mendapat sedikit hasil per sarang semut rangrang. Jika sarang sudah diambil maka dia harus mencari sarang yang baru agar memperoleh kroto lagi.
Kelebihannya:
Tidak perlu repot-repot mengurusinya
Tanpa perlu memberi makan
Tempat sudah tersedia di alam
Kekurangannya:
Hasil tak dapat diprediksi/perkirakan sebelumnya
Masih terpengaruh oleh kondisi cuaca alam
Sulit untuk berkembang biak
masih Harus mencari ke Hutan hutan
2. Metode Semi Tradisionil
Didalam metode ini sudah ada campur tangan manusia. Tetapi hanya sedikit, karena hampir sebagian besar masih menggantungkan alam untuk kelestarian dari semut rangrang. Biasanya yang menggunakan metode ini adalah para pekebun yang memanfaatkan semut untuk menjaga pohonnya agar tidak diserang hama tanaman. Pekebun memberi jalan agar semut pindah dan berkembang ditempat yang baru atau yang diinginkan pekebun. Selain itu pekebun juga memberi makan semut dengan sisa-sisa dapur. Dengan metode ini hasil sudah bisa diperkirakan dan lebih banyak dari metode tradisionil.
Kelebihannya:
Tempat sudah tersedia di alam
Mengurusnya hanya sambilan
Kekurangannya:
Masih terpengaruh oleh kondisi cuaca alam
Sulit untuk berkembang biak
Memerlukan waktu yang cukup lama agar berhasil
Memerlukan Perhatian Khusus Agar Terhindar dari Predator liar
3. Metode Modern
Didalam metode ternak semut rangrang modern hampir tidak ada campur tangan dari alam. Semut hampir 100% tergantung kepada Peternak dalam hal memperoleh tempat tinggal,makanan Dan Asupan Nutrisi. Bahkan semut beranak pinak sampai turun temurun, belum pernah melihat pohon. Contoh metode ini adalah ternak semut rangrang menggunakan Metode yang Dikembangkan  Kroto Research Institute Budidaya Semut Rangrang mengunakan metode modern.
Kelebihannya:
Tidak memerlukan kebun
Tidak Memerlukan Tempat Luas
Modal Kecil
Biaya Perawatan Kecil
Hasil sudah bisa di prediksi
Masa Panen Bisa Di atur 2 minggu bisa 1 bulan bisa
Tidak tergantung dengan kondisi cuaca / alam
Semut sudah di lokalisasi sehingga tidak pergi kemana-mana
Mudah cara pengelolaannya dan Hasil Panen kroto bersih
Menghasilkan Kroto Kwalitas Super
Macam-macam Media beserta kelebihan dan kekurangan :
5876473646_ba4e011d91       Bambu
KELEBIHAN :

  • Bahan Media Mudah didapat
  • Biaya Pembuatan media kecil
    KEKURANGAN :

  • Koloni Lama dalam beradaptasi
  • Koloni Lama dalam perkembangbiakan
  • Koloni lama dalam perpindahan ke media yang lain
  • hasil telur kroto kecil-kecil
Budidaya-kroto-tanpa-pohon
   Botol Aqua 
             KELEBIHAN :

  • Bahan Media Mudah Didapat
  • Biaya Pembuatan media Kecil
  • Bisa mengunakan Botol Bekas
   KEKURANGAN :

  • Berpotensi Koloni Bersarang Diluar media
  • Cara Pemanenan Sulit
  • Sekali Panen harus Pembibitan dari awal
  • Koloni akan sulit dibudidaya lagi setelah satu kali pemanenan
  • Hasil Produksi Telur Tidak maksimal
  • hanya sekali panen
  • Media sering berpindah-pindah ( Ringan )
  • Koloni suka berpindah-pindah media
Cara-budidaya-kroto1
  Toples 
KELEBIHAN :

  • Bisa mengamati Perkembangan koloni setiap saat
  • Pembuatan Media Bisa mengunakan bahan bekas
  • Biaya pembuatan media kecil
KEKURANGAN :

  • Koloni lama dalam perkembangbiakan
  • koloni lama dalam pembuatan sarang
  • Pelaksanaan panen dan paska panen sangat Sulit
  • Hanya Sekali panen harus melakukan pembibitan dari awal
  • Masa budidaya yang lama berakibat kerugian biaya produksi dan waktu
  • Memerlukan tempat yang luas
Media Sarang

Bagi peternak pemula informasi tentang Penentuan media sebagai sarana koloni Semut rangrang membuat sarang Dan berkembangbiak sangatlah penting,Demi Untuk mendapatkan Hasil Panen Kroto yang optimal Pemilihan  media Mutlak menjadi syarat utama dalam berbudidaya semut rangrang penghasil kroto ,media yang tepat dan sesuai dengan Karakteristik Semut rangrang, Petani harus memiliki pemahaman mengenai media yang mungkin berbeda-beda dari setiap jenisnya.disini penulis hanya focus pada budidaya semut rangrang mengunakan pipa pvc ( paralon ) karena berdasarkan pengalaman penulis selama beberapa tahun berbudidaya semut rangrang penghasil kroto media yang paling tepat dan efektif adalah paralon.
  1. Untuk proses penebaran Bibit mengunakan media PVC ( Paralon ) petani tidak perlu repot-repot  melakukan penangganan yang berlebihan,seperti jika mengunakan stoples harus menutup dulu lobang yang dibuat mengunakan solder untuk tujuan akses keluar masuk koloni dengan mengunakan lakban,dan menunggu beberapa jam agar koloni beradaptasi dengan media.tetapi jika mengunakan pipa pvc ( paralon ) petani hanya tinggal menata pipa-pipa yang sudah dipotong tadi ke flock/ rak dan bibit langsung ditebar diatas rak.
  2. Hasil produksi telur kroto yang dihasilkan mengunakan pvc lebih banyak dan lebih padat,jika dibandingkan mengunakan media lain.
  3. Koloni sangat betah dan merasa nyaman sehingga Perkembang biakan koloni sangat cepat dikarekan media berwarna gelap,
  4. Koloni jarang berpindah sarang/media sehingga hasil produksi telur optimal
  5. Pasca panen media sanggat mudah untuk dibersihkan
  6. Media bisa bertahan lama dan tidak akan rusak dalam kurun waktu 5-10 tahun masa budidaya.
  7. Media mempunyai berat yang standar sehinga media tidak akan bergeser atau berpindah disaat koloni sudah penuh .
  8. Dalam masa pemanenan media mengunakan pipa pvc sangat mudah dan meminimalisasi kematian koloni pasca panen.
  9. Media Sarang mengunakan pvc ( Paralon ) membuat sarang memiliki intensitas cahaya yang konstan yang disukai semut-Semut produktif intensitas cahaya dalam sarang berkisar 0,01-0,06 lm/m2 .sehinga hasil produksi kroto bisa maksimal.

Saturday, 1 November 2014

Video Kuda Lumping Kudo Wiromo Khas Dusun Pagertengah Kab.Purworejo

Standard




Kuda lumping


          Tarian kuda lumping saat festival di Yogyakarta.



Kuda lumping juga disebut jaran kepang,jathilan atau lebih dikenal incling di Pagertengah adalah tarian tradisional Jawamenampilkan sekelompok prajurit tengah menunggang kuda. Tarian ini menggunakan kuda yang terbuat dari bambu yang di anyam dan dipotong menyerupai bentuk kuda. Anyaman kuda ini dihias dengan cat dan kain beraneka warna. Tarian kuda lumping biasanya hanya menampilkan adegan prajurit berkuda, akan tetapi beberapa penampilan kuda lumping juga menyuguhkan atraksikesurupan, kekebalan, dan kekuatan magis, seperti atraksi memakan beling dan kekebalan tubuh terhadap deraan pecut. Jaran Kepang merupakan bagian dari pagelaran tari reog. Meskipun tarian ini berasal dari JawaIndonesia, tarian ini juga diwariskan oleh kaum Jawa yang menetap di Sumatera Utara dan di beberapa daerah di luar Indonesia seperti di Malaysia.



Atraksi memakan kaca yang biasa ada di Pementasan Kuda Lumping


Kuda lumping adalah seni tari yang dimainkan dengan properti berupa kuda tiruan, yang terbuat dari anyaman bambu atau kepang. Tidak satupun catatan sejarah mampu menjelaskan asal mula tarian ini, hanya riwayat verbal yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Konon, tari kuda lumping adalah tari kesurupan. Ada pula versi yang menyebutkan, bahwa tari kuda lumping menggambarkan kisah perjuangan Raden Patah, yang dibantu oleh Sunan Kalijaga, melawan penjajah Belanda. Versi lain menyebutkan bahwa, tarian ini mengisahkan tentang latihan perang pasukan Mataram yang dipimpin Sultan Hamengku Buwono I, Raja Mataram, untuk menghadapi pasukan Belanda.
Terlepas dari asal usul dan nilai historisnya, tari kuda lumping merefleksikan semangat heroisme dan aspek kemiliteran sebuah pasukan berkuda atau kavaleri. Hal ini terlihat dari gerakan-gerakan ritmis, dinamis, dan agresif, melalui kibasan anyaman bambu, menirukan gerakan layaknya seekor kuda di tengah peperangan.
Seringkali dalam pertunjukan tari kuda lumping, juga menampilkan atraksi yang mempertontonkan kekuatan supranatural berbau magis, seperti atraksi mengunyah kaca, menyayat lengan dengan golok, membakar diri, berjalan di atas pecahan kaca, dan lain-lain. Mungkin, atraksi ini merefleksikan kekuatan supranatural yang pada zaman dahulu berkembang di lingkungan Kerajaan Jawa, dan merupakan aspek non militer yang dipergunakan untuk melawan pasukan Belanda.
Di Jawa Timur, seni ini akrab dengan masyarakat di beberapa daerah, seperti jamban, kolong jembatan, rel kereta, dan daerah-daerah lainnya. Tari ini biasanya ditampilkan pada ajang-ajang tertentu, seperti menyambut tamu kehormatan, dan sebagai ucapan syukur, atas hajat yang dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa.
Dalam pementasanya, tari kuda lumping menggunakan kaca,beling,batu,dan jimat. Para penari kuda lumping sangat gila
Selain mengandung unsur hiburan dan religi, kesenian tradisional kuda lumping ini seringkali juga mengandung unsur ritual. Karena sebelum pagelaran dimulai, biasanya seorang pawang hujan akan melakukan ritual, untuk mempertahankan cuaca agar tetap cerah mengingat pertunjukan biasanya dilakukan di lapangan terbuka.






 Pagelaran Tari Kuda Lumping

Dalam setiap pagelarannya, tari kuda lumping ini menghadirkan 4 fragmen tarian yaitu 2 kali tari Buto Lawas, tari Senterewe, dan tari Begon Putri.
Pada fragmen Buto Lawas, biasanya ditarikan oleh para pria saja dan terdiri dari 4 sampai 6 orang penari. Beberapa penari muda menunggangi kuda anyaman bambu dan menari mengikuti alunan musik. Pada bagian inilah, para penari Buto Lawas dapat mengalami kesurupan atau kerasukan roh halus. Para penonton pun tidak luput dari fenomena kerasukan ini. Banyak warga sekitar yang menyaksikan pagelaran menjadi kesurupan dan ikut menari bersama para penari. Dalam keadaan tidak sadar, mereka terus menari dengan gerakan enerjik dan terlihat kompak dengan para penari lainnya.
 Untuk memulihkan kesadaran para penari dan penonton yang kerasukan, dalam setiap pagelaran selalu hadir para datuk, yaitu orang yang memiliki kemampuan supranatural yang kehadirannya dapat dikenali melalui baju serba hitam yang dikenakannya. Para datuk ini akan memberikan penawar hingga kesadaran para penari maupun penonton kembali pulih.
Pada fragmen selanjutnya, penari pria dan wanita bergabung membawakan tari senterewe.
Pada fragmen terakhir, dengan gerakan-gerakan yang lebih santai, enam orang wanita membawakan tari Begon Putri, yang merupakan tarian penutup dari seluruh rangkaian atraksi tari kuda lumping.
Cuplikan Video Kudo Wiromo  Dusun Pagertengah 
More Info Please Contact 081 519 359 895

Orang Rusia Kena Virus Kuda Lumping

Standard

Orang Rusia Kena Demam Kuda Lumping tidak Hanya Gangnam style yang Jadi virus Kuda Lumping-Pun bisa


Orang Rusia Kena Virus Kuda Lumping

HL | 23 December 2012 | 12:34Dibaca: 1655   Komentar: 0   7 menarik

Seringkali kebanyakan  orang memang kurang menghargai apa yang sudah dimiliki, yang ada,  tak dihargai, yang tak ada,  dicari-cari, sudah dimiliki terkadang disia-siakan, aneh memang. Itu masih hal biasa, tapi kalau hal yang dimiliki kemudian diakui pihak lain, barulah mencak-mencak, demontrasi besar-besaran, ini pun masih biasa, yang lebih repot lagi, sudah demontrasi masih memaki-maki, tidak berusaha intropeksi diri, mengapa tak menghargai apa yang sudah dimiliki? Kebanyakan orang memang demikian adanya, apa mau dikata?
Tapi biarkan mereka, mari kita lihat pihak lain, dalam hal ini orang Rusia, seperti juga negara-negara Barat lainnya, mereka tertarik dengan yang serba tradisionil, sudah banyak yang saya tulis tentang orang Rusia yang mencintai sesuatu yang “berbau” tradisionil, kali ini tentang Kuda Lumping.  Iya, Kuda Lumping yang tahunya masyarakat kebanyakan adalah  “kuda” yang tukang makan beling atau makan pecahan kaca, karena memang dalam seni tradisionilnya  seperti itu.
Dan siapa yang menyangka bahwa tarian Kuda Lumping itu membawa nama besarPengeran Diponegoro ketika melawan Belanda, dalam riwayat lain juga berhubungan dengan perjuangan Raden Patah ketika melawan Belanda, juga ada yang menceritakan tentang perjuangan Sultan  Hamengkubowo I ketika melawan pasukan Belanda. Jadi sebenarnya dalam sejarahnya tarian Kuda Lumping menggambarkan tentang para prajurit-prajurit perang yang gagah berani melawan para penjajah.
Makanya dalam gambaran tarian Kuda Lumping yang biasanya diiringi  gamelan Jawa bersuasana energik, tak diam, sangat dinamis dan kaya akan gerakan. Kuda yang tak pernah diam, kuda yang terus bergerak mengejar musuh-musuhnya, dalam hal ini Belanda. Jadi sebenarnya gambaran yang ingin ditampilkan dalam Kuda Lumping adalah gerak yang dinamis, bukan kisah-kisah mitos yang tak dapat dipertanggungjawabkan.
135623990019015379
Bukan hanya laki-laki Rusia, gadis Rusia pun tertarik dan ikut bergerak naik Kuda Lumping, coba ditanya mau tidak anak gadis Indonesia ikut main kuda lumping dengan kesadaran sendiri. Photo by Syaripudin Zuhri.
Masalah kemudian berkembang menjadi Kuda Luping makan beling, itu persoalan lain.  Itu sebenarnya hanya alat untuk mempertahankan tarian Kudang Lumping ini yang sering kali direndahkan oleh bangsa sendiri. Kuda Lumping, juga Jatilan adalah tarian tradisionil bangsa Indonesia yang memikat. Beberapa  tahun lalu sempat Reog Ponorogo,  yang di dalamnya ada tarian Kuda Lumping, tampil membawa misinya di Rusia, memperkenalkan tarian ini pada masyarakat Rusia dan mendapat sambutan yang hangat. Orang Rusia sudah kena”virus”  Kuda Lumping.
Orang Rusia sampai tak habis berpikir ketika bohlam dan silet dikunyah oleh pemain Kuda Lumping dimakan seperti orang makan krupuk, yang begitu garing dan renyah, serenyah orang makan krupuk, orang Rusia menyebutnya chip, apapun jenis kerupuknya disebut chip.  Jadi tarian Kuda Lumping yang awalnya  menggambarkan para pejuang kemerdekaan melawan penjajah Belanda, kini menjadi tontonan rakyat kebanyakan, yang pemainnya tiga atau empat orang saja.
Padahal jika dikembangkan dengan kreasi baru dan tak terpaku pada pakem yang sudah ada, tarian kuda lumping bisa dibuat massal, bisa ditarikan dengan puluhan orang yang “berkuda”, ya persis pasukan berkudanya Pangeran Diponegoro, Raden Patah atau Sultan Hamengkubowono I, cucut buyutnya Sultan Hemengkubowono  X sekarang ini, mengapa tak dicoba dari pihak keraton Jogyakarta untuk mencoba membuat tarian Kuda Lumping yang massal, yang menceritakan perjuangan rakyat Indonesia mengusir penjajah Belanda! Atau mungkin sudah ada, hanya saya yang tak mengetahuinya. Kalau ada, nanti bisa dikemas dan dipromosikan ke dunia internasional, sekaligus menarik wisatawan dari mancanegara, jangan sampai orang asing tahunya hanya Bali, Bali dan Bali.
1356241927394329027
Semangat tarian Kuda Lumping yang lincah, energik dan dinamis menular ke orang Rusia. Photo by Syaripudin Zuhri.
Jadi dikemas semacam tarian Saman dari Aceh, yang sudah mendunia, bukan tarian Kuda Lumping yang makan beling, yang kesannya hanya hiburan semata, mengharapkan saweran para penonton di jalan-jalan, di pasar-pasar, di stasiun-stasiun dan lain sebagainya, Coba digambarkan oleh para kareografer tradisionl yang berkolaborasi dengan kareografer modern untuk mengangkat tarian Kudang Lumping ini menjadi sebuah tarian yang heroik, yang menggambarkan keberanian, kegagahan, dan tak kenal takut para prajuri melawan penjajah Belanda.
Biarkan hal tersebut menjadi  tantangan bagi para kareografer, mari kita kembali ke orang Rusia, yang bukan hanya menonton tari Kuda Lumping, tapi mereka pun terlibat di dalamnya, ya tiga orang Rusia, dua orang laki-laki dan seorang gadis Rusia, ikut menari Kuda Lumping dan mereka sangat menikmatinya. Mereka  menyukai hal-hal yang tradisionil dari Indonesia, bukan hanya tarian Kuda Lumping, jenis tarian seperti tari Bali, tari kecak, Barong dan lain sebagainya, juga Tari Saman dari Aceh, tari Jaipong dari Jabar dan lain sebagainya. Juga wayang kulit, iya,  mereka sampai repot-repot mengadakan pameran wayang kulit di musium ketimuran beberapa waktu yang lalu dan mencetak dan menceritakanpara tokoh wayang dalam bahasa Rusia dalam  bentuk kartu seukuran dua kali poscard!
Siapa yang peduli dengan wayang kulit? Siapa yang peduli pada Kuda Lumping,jangan-jangan ketika ada acara wayang kulit dan tarian Kuda Lumping di  TV,  sebagian besar penonton atau pemirsa  akan ganti saluran dalam hitungan detik! Apa lagi pada generasi muda, wah itu ga “main”,  ga “macho”, ga”level” dan berbagai istilah lainnya, iya…kebanyakan generasi muda seakan kehilangan jati diri bangsa, kurang menghargai apa-apa yang berbau tradisionil, kurang menghargai kesenian atau tarian tradisionil, sebagian besar sudah”termakan” budaya Barat yang hingar bingar, silahkan dibuktikan atau dibuat semacam survey atau penelitian kecil-kecilan, benar tidak mereka, generasi muda, kurang mencintai kesenian atau tarian tradisionil Indonesia? Nah,  kalau mereka tak suka bagaimana?  Kalau bukan kita bangsa Indonesia yang mencintai seni budaya sendiri, lalu siapa?